Menuju tiga satu

Sudah lama rasanya tidak menulis lagi, tapi karena akhir-akhir ini gua selalu ngopi pagi di deket rumah, jadi lah gua terpikir untuk melanjutkan tulisan di blog ini.

Beberapa hari lagi, umur gua akan berkurang, jadi 31, perjalanan yang sangat singkat, kalau kata orang-orang mah, "Ngga kerasa yaa, cepet banget"

Mungkin kata-kata itu cocok ketika disampaikannya ketika ulang tahun, coba kita merasakan itu setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Semua akan terasa lama dan berasa juga. Wajar saja. Sama kaya kita nungguuin adzan magrib di waktu bulan Ramadan, rasanya 1 jam berasa 3 jam. Begitu lah, ketika kita menunggu sesuatu yang akan datang, rasanya akan lama, tapi ketika kita menunggu sesuatu sambil melakukan hal yang berguna (at least buat diri sendiri), maka waktu akan terasa cepat.

Sebenarnya, banyak banget perubahaan gua di umur 30 ini. Tapi itu poin dari kehidupan, bahwa kita harus berubah setiap harinya (tentunya menuju ke arah yang lebih baik). Setiap harinya kita tidak boleh sama dengan hari sebelumnya, minimal ada ilmu yang bertambah setiap harinya. Itu harus. 

Jika satu hari, satu ilmu. Maka, satu tahun, 365 ilmu. Untuk pemula, itu sudah sangat cukup.

kalau diingat, umur 30 ini, gua mendapatkan banyak rezeki yang berlimpah (alhamdulillah). Dimulai dari umur 29 sebenarnya, setelah penantian panjang bergelut di dunia sosmed, akhirnya di umur ke-29, gua bisa membuktikan ke diri gua bahwa semua yang gua lakukan dari 8 tahun lalu, tidak sia-sia.

Semua bermula dari saat sekolah SD, di mana gua memang sudah tertarik sekali dengan foto dan video dan kebetulan bokap gua memfasilitasi dan dilanjtukan dengan sekolah multimedia di SMK. walaupun gua ngga melanjutkan ke perguruan tinggi, gua malah lari ke Pendidikan Bahasa Arab, tapi gua tetep seneng untuk ngedit foto dan video.

Apalagi setelah kenal dunia standup, gua kenal dunia standup melalui senior gua yaitu Dzawin. Kaka kelas gua di SMP dan SMA dulu, ketemu dan dikenalkan dengan dunia standup. Bahkan, lebih dari dikenalkan, tapi diajari secara mendalam. Engga aneh, kalau sampai sekarang, nama beliau masih menjadi orang nomor 1 yang merubah gua.

Perkontenan ini semua bermula dari kampus, saat gua dan beberapa temen dari komunitas Standup UIN nongkrong di kafe cangkir. Gua berinisiatif untuk bikin video komedi dan mereka mau. 

Dulu, belum ada kata viral, jadi tujuan video itu dibuat hanya untuk menghibur diri sendiri dan teman-teman. Bahkan, gua senang ketika salah satu senior StandupIndoJakbar bilang bahwa dia bikin konten (video) karena liat gua bikin konten. Rasanya senang sekali kalau kita bisa menjadi alasan orang memulia sesuatu.

Perubahaan gaya ngonten gua yang sangat signifikan itu datang ketika gua bekerja menjadi timnya Bang Ardit. Dari dia, gua belajar banyak banget ilmu yang bermanfaat sampai sekarang. Ardit salah satu yang menjadikan gua seperti sekarang, karena dulu (pada masanya) dia menjadi raja konten, at least di kalangan anak standup.

Jadi, ketika kesempatan kerja bareng dia itu ada, gua sikat tanpa pikir panjang. Dan bener, perkiraan gua ngga salah, gua menjadi sangat-sangat berkembang setelah bareng dia.

Setelah 2 tahun kerja bareng Bang Ardit, gua memutuskan untuk berdiri di kaki sendiri dengan uang yang ada, gua mencoba hidup dari konten.

Dalam pemikiran gua, ketika uang tabungan gua habis dan gabisa hidup dari konten, gua akan kembali kerja sebagai apapun di dunia kreatif, untuk ngumpulin modal lagi buat hidup dari konten lagi.

Alhamdulillahnya, sebelum tabungan abis, salah satu karakter yang gua build meledak! Yap, itu Ustad Kalcer dan satu persatu brand percaya ke gua dan yap sampai sekarang.

Walaupun, setelah 2 tahun Ustad Kalcer lahir, ketika gua tulis tulisan ini, gua lagi survive juga di konten, karena gua butuh pembaharuan untuk konten Ustad Kalcer, jadi diistirahatkan sementara. Jadi, gua fokus ke konten-konten yang dulu (sebelum ustad kalcer) gua bikin, sambil mikir Ustad Kalcer mau dikemanain lagi.

Akhir-akhir ini pun, gua lagi sering ketemu Bang Dzawin, untuk sekedar ngobrol dan nemenin dia nulis untuk special shownya. Dan yap, omongan beliau masih sama, gua harus kembali berstandup.

Makanya, di umur 31 dan seterusnya, gua akan lebih fokus juga ke standup. Biar ilmu komedi gua ngga luntur, bagaimanapun, gua harus terus berkomedi, karena alasan gua berkonten pun karena ingin berkomedi.

Udah dulu yaa, gua nulis ini di outdoor, panas banget, tangan gua keringetan (dari dulu) wkwk

bye.

Posting Komentar

0 Komentar